Tarif dagang Amerika Serikat (AS) yang tinggi kembali menjadi ancaman bagi perekonomian Indonesia. Direktur Utama CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan tantangan sekaligus peluang yang muncul di tengah gejolak ekonomi global. Situasi ini semakin kompleks dengan latar belakang perang dagang AS-Tiongkok yang belum sepenuhnya mereda.
Tarif 30% yang dibebankan AS, meskipun lebih rendah dari prediksi awal 145%, tetap menjadi tarif tertinggi yang diterapkan dalam hampir seabad terakhir. Hal ini menimbulkan dampak signifikan terhadap Indonesia, yang terlihat dari beberapa sektor krusial.
Tiga Ancaman Utama bagi Ekonomi Indonesia
Konflik perdagangan AS-Tiongkok memberikan dampak multi-faceted terhadap Indonesia melalui tiga jalur utama.
Ekspor-Impor Terganggu
Tarif tinggi AS mengancam ekspor Indonesia, terutama produk seperti mesin, alas kaki, pakaian, dan CPO. Jawa Barat, misalnya, mengalami dampak langsung karena 16,7% ekspornya senilai 6,34 miliar dolar AS (Rp99 triliun) ditujukan ke pasar AS. Penurunan ekspor ini berpotensi menurunkan pendapatan negara dan mengganggu stabilitas perekonomian.
Investasi Asing Terhambat
Perang dagang berpotensi menarik relokasi industri dari Tiongkok. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam daya saing iklim investasi. Tingkat ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Indonesia yang tinggi membuat investasi di Indonesia menjadi lebih mahal dibandingkan negara lain. Vietnam dan Kamboja, yang sebelumnya menjadi tujuan relokasi, kini juga mulai menghadapi kebijakan proteksionis dari AS, membuka peluang baru bagi Indonesia asalkan mampu memperbaiki iklim investasinya.
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Ketegangan global mengakibatkan capital outflow dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah ini tergolong signifikan jika dibandingkan dengan negara lain. Hal ini berdampak langsung pada harga barang konsumsi dan bahan baku impor, yang pada akhirnya memicu inflasi dalam negeri.
Impor Ilegal Memperparah Situasi
Ancaman terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya datang dari tarif resmi. Lonjakan impor ilegal, terutama dari Tiongkok, semakin menekan industri dalam negeri. Perbedaan harga yang signifikan antara produk lokal dan impor dari Tiongkok, khususnya pada produk tekstil dan alas kaki, menciptakan persaingan yang tidak sehat. Hal ini terlihat dari peningkatan PHK yang tajam hingga 150% pada dua bulan pertama tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian negara akibat hilangnya penerimaan pajak dari impor ilegal diperkirakan mencapai Rp65,4 triliun.
China Mengalihkan Pasar ke ASEAN
Dampak tidak langsung juga terlihat dari strategi Tiongkok yang mengalihkan ekspornya ke pasar alternatif, termasuk ASEAN, setelah mengalami penurunan ekspor ke AS. Hal ini mengancam Indonesia karena banyak produk Tiongkok yang masuk ke ASEAN merupakan produk yang juga menjadi andalan ekspor Indonesia, seperti pakaian dan alas kaki. Kompetisi ini tidak hanya terjadi di pasar ekspor, tetapi juga di pasar domestik Indonesia.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Menurun
Sebelum Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan I sebesar 4,87%, CORE Indonesia telah memprediksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,8-4,9%. Untuk keseluruhan tahun 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 4,6%-4,8%, lebih rendah dari rata-rata tahun-tahun sebelumnya yang masih berada di angka 5%. Penurunan ini menunjukkan tekanan dari sisi ekspor, investasi, dan kurs yang saling berkaitan.
Penguatan Ekonomi Domestik: Strategi Jangka Pendek
Meskipun hasil negosiasi dengan AS masih belum pasti hingga 8 Juli 2025, Indonesia harus fokus pada strategi jangka pendek untuk memperkuat ekonomi domestik. Hal ini mencakup reformasi iklim investasi yang lebih kompetitif, penindakan tegas terhadap impor ilegal, perlindungan industri nasional melalui kebijakan yang tepat, dan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif terhadap dinamika global. Dengan demikian, Indonesia dapat meminimalisir dampak negatif dan memanfaatkan peluang yang ada di tengah tantangan ekonomi global. Prioritas utama adalah membangun ketahanan ekonomi dalam negeri agar tetap kokoh di tengah ketidakpastian global.

