EO Indonesia: Tantangan Global, Fokus Lokal, Strategi Apa?
EO Indonesia: Tantangan Global, Fokus Lokal, Strategi Apa?

EO Indonesia: Tantangan Global, Fokus Lokal, Strategi Apa?

Diposting pada

Pelaku Event Organizer (EO) di Indonesia lebih memilih fokus pada pasar domestik ketimbang merambah pasar internasional. Hal ini disebabkan beberapa faktor, antara lain kenyamanan bekerja di lingkungan yang sudah dikenal dan minim risiko, serta kurangnya tenaga ahli bersertifikat internasional. Kondisi ini menjadi sorotan Dewan Industri Event Indonesia (IVENDO) yang mendorong peningkatan daya saing EO Indonesia di kancah global.

IVENDO melihat potensi besar pasar internasional yang belum tergali secara maksimal oleh para pelaku EO di Indonesia. Mereka lebih memilih mengerjakan proyek dalam negeri karena dianggap lebih mudah dan efisien. Namun, peluang di pasar global sangat besar dan sayang untuk dilewatkan.

Tantangan Sertifikasi dan Standar Internasional

Ketua Umum IVENDO 2022-2025, Mulkan Kamaluddin, menjelaskan bahwa minimnya sertifikasi internasional menjadi salah satu kendala utama. Meskipun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sudah diakui secara internasional, standar tersebut belum sepenuhnya selaras dengan standar ASEAN.

Oleh karena itu, IVENDO mendorong para pelaku industri event untuk aktif mengikuti pelatihan dan sertifikasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing mereka di pasar internasional. Proses sertifikasi yang terstandar akan meningkatkan kepercayaan klien internasional terhadap kualitas layanan EO Indonesia.

Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan National Tourism Professional Board (NTPB), turut mendukung upaya ini. NTPB dibentuk sebagai bagian dari kesepakatan ASEAN untuk memfasilitasi pergerakan tenaga kerja profesional di sektor pariwisata, termasuk bidang event.

Potensi Pasar Internasional yang Terabaikan

Area Director Singapore Tourism Board (STB), Hafez Marican, mengamati fokus EO Indonesia yang masih terpaku pada pasar domestik. Padahal, pasar internasional menawarkan peluang yang sangat besar dan menjanjikan.

Hafez menekankan pentingnya melihat lebih jauh dari pasar domestik. Meskipun pasar dalam negeri memang besar, pasar internasional memiliki potensi yang sama besarnya, bahkan mungkin lebih besar lagi.

Ia juga menyoroti kesulitan perusahaan Singapura yang ingin menyelenggarakan event di Indonesia. Banyak yang kesulitan mendapatkan informasi dan dukungan teknis yang memadai dari EO lokal. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kolaborasi dan transparansi informasi di sektor ini.

Kebijakan Efisiensi dan Akses Informasi

Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah juga berdampak pada peluang ekspansi EO ke luar negeri. Anggaran yang terbatas membuat EO kesulitan membiayai proyek di luar negeri yang membutuhkan investasi lebih besar.

Selain itu, kurangnya akses informasi yang terpusat juga menjadi kendala. Hafez menyarankan agar Indonesia memiliki satu situs resmi yang berisi informasi lengkap tentang agenda event nasional dan internasional. Situs ini harus menyediakan panduan partisipasi dan akses lokasi yang mudah dipahami.

Dengan adanya situs tersebut, pelaku industri event internasional akan lebih mudah mendapatkan informasi dan tertarik untuk berpartisipasi dalam event di Indonesia. Hal ini akan meningkatkan citra Indonesia sebagai destinasi penyelenggaraan event yang profesional dan mudah diakses.

Ke depannya, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sertifikasi internasional, peningkatan akses informasi, dan dukungan pemerintah akan menjadi kunci bagi EO Indonesia untuk bersaing dan meraih sukses di pasar internasional. Dengan demikian, Indonesia dapat memaksimalkan potensi besar industri eventnya di tingkat global. Kesuksesan ini tak hanya menguntungkan pelaku EO, tapi juga meningkatkan perekonomian negara melalui pariwisata dan investasi asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *