Hamas mengumumkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru sayap politiknya, menggantikan Ismail Haniyeh yang meninggal dunia di Teheran pekan lalu. Pengumuman mengejutkan ini memicu reaksi keras dari Israel dan meningkatkan ketegangan regional yang sudah memanas.
Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza sejak 2017, dianggap oleh Israel sebagai dalang serangan brutal 7 Oktober 2023 ke Israel selatan. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 lainnya, memicu perang dahsyat di Gaza yang telah menelan korban jiwa hampir 40.000 warga Palestina, menurut data Kementerian Kesehatan Hamas.
Pengangkatan Sinwar dan Reaksi Keras Israel
Pengangkatan Sinwar sebagai pemimpin baru Hamas langsung disambut kecaman keras dari Israel. Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyerukan pembunuhan Sinwar melalui akun X-nya.
Israel percaya Sinwar telah bersembunyi di jaringan terowongan bawah tanah Hamas di Gaza sejak serangan Oktober lalu. Lokasi persembunyiannya diduga di bawah Khan Younis atau Rafah, kemungkinan bersama para sandera.
Juru bicara IDF, Richard Hecht, sebelumnya menyebut Sinwar sebagai “wajah kejahatan” dan “orang mati berjalan”. IDF bahkan pernah merilis video yang diklaim menunjukkan Sinwar di dalam terowongan Gaza.
Dalam wawancara dengan Al Arabiya, juru bicara IDF Daniel Hagari menegaskan bahwa Sinwar harus mempertanggungjawabkan kejahatannya. Ia menyebut hanya ada satu tempat bagi Sinwar, yaitu bersama komandan sayap militer Hamas, Muhammad Deif (yang telah dikonfirmasi tewas oleh IDF pada Agustus lalu, meskipun Hamas belum mengkonfirmasi).
Ketegangan Meningkat di Tengah Ancaman Balas Dendam
Pengumuman tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Iran dan sekutunya mengancam membalas kematian Haniyeh, yang mereka tuduhkan kepada Israel.
Amerika Serikat telah mengerahkan pasukan tambahan untuk mendukung Israel, mengantisipasi kemungkinan serangan balasan. AS dan sekutunya sebelumnya berhasil menggagalkan serangan besar-besaran Iran terhadap Israel awal tahun ini.
Meskipun Israel belum berkomentar resmi soal kematian Haniyeh, laporan di Jewish Chronicle mengklaim bahwa bom yang menewaskan Haniyeh ditanam oleh agen Korps Garda Revolusi Islam yang direkrut Mossad. Klaim tersebut belum diverifikasi.
Perundingan Gencatan Senjata dan Pertukaran Sandera
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menekankan peran kunci Sinwar dalam perundingan gencatan senjata dan pertukaran sandera di Gaza.
Juru bicara Hamas, Osama Hamdan, menyatakan Sinwar akan terus terlibat dalam negosiasi, menyalahkan Israel dan AS atas kegagalan mencapai kesepakatan. Ia menggambarkan pengangkatan Sinwar sebagai bukti tekad Hamas yang tak tergoyahkan.
Seorang pejabat senior Hamas menyebut pemilihan Sinwar sebagai pesan kuat kepada Israel. Sekutu Hamas, Iran dan Hizbullah, juga memberikan dukungan terhadap pengangkatan Sinwar.
Yahya Sinwar, lahir di kamp pengungsi Khan Younis, bergabung dengan Hamas sekitar tahun 1987. Ia menjabat sebagai komandan senior sayap militer Hamas sebelum memimpin gerakan di Gaza pada 2017, menggantikan Ismail Haniyeh.
Situasi di Timur Tengah tetap rawan dan penuh ketidakpastian. Pengangkatan Sinwar menambah kompleksitas perundingan damai dan meningkatkan potensi eskalasi konflik. Perkembangan selanjutnya perlu dipantau secara ketat.



