Raksasa elektronik Jepang, Panasonic, mengumumkan rencana besar untuk merampingkan operasionalnya. Langkah ini melibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 10.000 karyawan, atau sekitar 4% dari total tenaga kerja mereka yang mencapai hampir 230.000 orang. PHK ini akan dilakukan secara merata antara Jepang dan negara-negara lain, masing-masing 5.000 karyawan.
Restrukturisasi yang dilakukan Panasonic ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi biaya dan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Program pensiun dini juga akan ditawarkan sebagai salah satu opsi pengurangan tenaga kerja.
1. Panasonic Bertransformasi Menuju Perusahaan yang Lebih Ramping dan Efisien
Presiden Panasonic, Yuki Kusumi, menjelaskan bahwa rasio pengeluaran penjualan, umum, dan administrasi perusahaan masih tinggi dibandingkan pesaing. Untuk itu, pemangkasan biaya menjadi prioritas utama.
Kusumi sendiri akan memangkas sekitar 40% dari kompensasi tahunannya sebagai bentuk komitmen. Panasonic menargetkan efisiensi operasional melalui penggabungan divisi penjualan dan fungsi pendukung di seluruh grup.
Restrukturisasi ini juga memungkinkan Panasonic untuk keluar dari unit bisnis yang merugi. Perusahaan akan meninjau kembali jumlah organisasi dan personel yang dibutuhkan, terutama di divisi penjualan dan non-produksi.
Biaya restrukturisasi diperkirakan mencapai US$ 894,6 juta (sekitar Rp 14,8 triliun). Panasonic berharap langkah ini akan meningkatkan profitabilitas jangka menengah.
2. Tantangan Persaingan dan Kinerja Bisnis yang Kurang Memuaskan
Selama lima tahun terakhir, margin laba operasi Panasonic hanya berkisar antara 3,4% hingga 5,0%. Angka ini jauh di bawah kompetitor seperti Sony dan Hitachi.
Penurunan pangsa pasar produk elektronik rumah tangga di Jepang dan Asia Tenggara menjadi salah satu penyebabnya. Pesaing dari China, seperti Haier dan Midea, berhasil menguasai pasar lemari es, microwave, dan televisi.
Lesunya pasar kendaraan listrik juga turut mempengaruhi kinerja Panasonic, meskipun perusahaan merupakan pemasok baterai utama untuk Tesla. Tekanan dari potensi tarif baru di Amerika Serikat dan penerimaan pasar yang kurang memuaskan untuk produk Vision Pro dan perangkat AI nirscreen juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.
3. Strategi Diversifikasi dan Potensi Penjualan Unit Bisnis Tertentu
Kusumi menyebut bisnis televisi sebagai pasar yang menantang secara struktural. Panasonic mempertimbangkan untuk menjual unit bisnis ini, meskipun belum ada keputusan final.
Kemungkinan kemitraan dengan produsen eksternal juga sedang dipertimbangkan, karena beberapa lini TV Panasonic telah dialihdayakan di Asia. Panasonic akan mengalihkan sumber daya ke layanan berbasis AI untuk klien korporat.
Unit gabungan yang menangani alat rumah tangga, AC, dan pencahayaan juga akan dibongkar. Divisi elektronik konsumen menjadi target utama pemangkasan karyawan, meskipun perusahaan belum merinci lini usaha spesifik yang akan dikurangi.
Panasonic memperkirakan penurunan penjualan tahun fiskal ini lebih dari 7%, menjadi sekitar US$ 53,7 miliar. Laba bersih diprediksi anjlok lebih dari 15%, menjadi US$ 2,1 miliar. Proyeksi ini belum memperhitungkan potensi dampak tarif dagang.
Langkah-langkah drastis yang diambil Panasonic menunjukkan betapa kompetitifnya industri elektronik saat ini. Perusahaan menyadari perlunya adaptasi dan transformasi untuk tetap bertahan dan bersaing. Sukses atau tidaknya restrukturisasi ini akan sangat menentukan masa depan Panasonic di kancah global.

